Home » Artikel » Begini Perempuan Kuala Langsa Memanfaatkan Sekaligus Menjaga Hutan Mangrove

Begini Perempuan Kuala Langsa Memanfaatkan Sekaligus Menjaga Hutan Mangrove

Acehlandscape.com, Langsa – Jika dulu pohon bakau di dalam hutan mangrove hanya bisa dijadikan sebagai bahan baku arang. Tapi saat ini, potensi hutan mangrove ini sudah dapat dijadikan beragam produk ramah lingkungan.

Perkembangan potensi hutan mangrove itu telah dijadikan momentum oleh kelompok perempuan di desa Kuala Langsa, Kecamatan Langsa Barat, Kota Langsa, untuk dijadikan gerakan baru dalam melindungi hutan mangrove di pantai timur Aceh.

Dibawah pimpinan Geuchik (Kepala Desa) Kuala Langsa, Rusmadi, desa ini terus berbenah. Salah satu inovasi yang sedang dikembangkan adalah beberapa produk unggulan yang tidak terdapat di desa lainnya.

Sebagai desa yang luas wilayah hutan mangrovenya lebih besar dari kawasan penduduknya, warga Kuala Langsa cukup cerdas untuk memanfaatkan potensi alam sekitar. Dari mulai memproduksi Sirup Mangrove, Selai Mangrove, Cemilan Mangrove, serta aneka olahan makanan seperti pepes dan bakso Mangrove menjadi andalan yang mampu mendongkrak perekonomian masyarakat setempat.

“Kami mencoba membuka jalan baru, meski kami tahu akan banyak tantangan dan hambatannya,” ujar Rusmadi, sebagai pembina Kelompok perempuan Kuala Langsa.

Diskusi bersama kelompok perempuan Kuala Langsa dengan pihak WWF Indonesia Northern Sumatra Program, WWF WWF Netherland dan Balai Syura Ureung Inong Aceh terkait program SRJS di Desa Kuala Langsa, Kota Langa.

Salah satu tantangan yang dialami, kata Rusmadi, Masih minimnya bahan baku yang makin hari makin berkurang. Kondisi ini, menurutnya, membutuhkan penanganan serius dari semua pihak, khususnya Pemerintah Aceh.

Pun begitu, semangat para perempuan desa ini tak kendur begitu saja. Buktinya, sampai hari ini, mereka yang tergabung dalam kelompok perempuan tersebut masih terus memproduksi berbagai olahan berbahan dasar (pohon atau buah) dari hutan mangrove.

“Meskipun belum banyak terjual, namun kami optimis bahwa produk-produk yang kami jual ini laku dipasaran. Kedepannya, kami perlu lebih mempromosikan ke banyak orang,” kata Rusmadi.

Adapun olahan Mangrove yang menjadi produk unggulan khas Kuala Langsa bukan sebatas penikmat lidah saja, melainkan juga memiliki khasiat seperti sirup yang diolah dari buah mangrove mampu mengobati panas dalam, mencegah flu dan menjaga kestabilan tubuh.

Memang potensi alam yang dimiliki Gampong Kuala Langsa ini beragam, tak hanya Mangrove, juga aneka Ikan yang dihasilkan, mengingat Gampong tersebut masuk kawasan pesisir, tentu membuat banyak olahan yang tak ada habisnya untuk disajikan. Kerupuk ikan yang begitu lezat dan khas juga tersaji sebagai bahan oleh-oleh pengunjung atau wisatawan yang mengunjungi Kuala, belum lagi warung makan khas Ikan Sembilang milik warga setempat juga sulit untuk ditiru cita rasa kelezatannya.

Foto bersama Kelompok perempuan Kuala Langsa dengan pihak WWF Indonesia Northern Sumatra Program, WWF WWF Netherland dan Balai Syura Ureung Inong Aceh terkait program SRJS di Desa Kuala Langsa, Kota Langa.

“Kami terus berupaya mensosialisasikan produk ramah lingkungan ini, karena selain mendukung ekonomi rakyat, juga akan mendukung kampanye konservasi hutan,” kata Rusmadi.

Selama ini kelompok perempuan Kuala Langsa diberikan pelatihan dan dukungan serta pengembangan pelatihan difasilitasi oleh Balai Syura Ureung Inong Aceh (Koalisi PJT) melalui program Share Resources Joint Solutions (SRJS) Aceh yang yang bekerja sama dengan Desa Kuala Langsa.

Seperti diketahui, sejak tahun 2015, Pemerintah Kota Langsa telah menetapkan hutan mangrove yang ada di Gampong Kuala Langsa menjadi lokasi ecoturism. Selain pendatang lokal, ada pula turis yang datang dari mancanegara untuk menikmati keindahan hutan mangrove.

Selain Pemko Langsa, kata dia, hingga saat ini belum ada pihak yang mendukung langsung gerakan konservasi berbasis ekonomi masyarakat ini.

Mereka berharap Pemerintah Aceh ke depan bisa menjadikan potensi ini sebagai kebijakan nyata untuk mendukung langkah konservasi dan ekonomi masyarakat kawasan hutan bakau.

“Karena langkah nyata konservasi itu adalah dengan mensejahterakan masyarakat di kawasan hutan dengan menciptakan ragam produk ramah lingkungan,” tutupnya. [af]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*