Home » Activity » Belajar Dari Komunitas : Sekolah Ekologi Leuser

Belajar Dari Komunitas : Sekolah Ekologi Leuser

Acehlandscape.com, Aceh Tenggara – Kelompok Perempuan Ekonomi Kreatif dampingan Balai Syura yang merupakan bagian dari kerjasama WWF dan FDKP dalam program SRJS melakukan Study Visit ke Sekolah Ekologi Leuser di Desa Ketambe, Aceh Tenggara pada 3-4 Juli 2019. Kegiatan ini merupakan bagian dari penguatan kelompok perempuan di empat Kabupaten/kota yang didampingi Balai Syura daerah. Melalui program ini peserta study visit yang berjumlah dua puluh orang akan mendapatkan pengetahuan dan pengalaman baru dari komunitas perempuan Sekolah Ekologi Leuser (SEL).

Study visit memiliki tujuan agar peserta belajar dari pengalaman dan pengetahuan komunitas perempuan SEL serta memicu motivasi agar mampu membangun komunitas dengan modal sosial, menghasilkan produk-produk alami, menguatnya pemahaman tentang kepemimpinan perempuan dan menjadi tempat rujukan belajar yang berbasis ekologi.

SEL berdiri sejak awal tahun 2019, yang terdiri dari masyarakat-masyarakat yang ada di Desa Ketambe. Desa ini terletak di Aceh Tenggara dan berada di Kaki Gunung Leuser dan Sungai Alas yang membentang hingga ke Aceh Singkil. Masyarakat sekitar hidup berdampingan dengan Tanam Nasional Gunung Leuser. Untuk itu pertanian monokultur sangat sulit untuk diwujudkan, terkait dengan lahan-lahan yang sudah sejak dulu telah menjadi bagian dari Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL).

SEL membangun strategi baru dalam memecahkan masalah tersebut dengan memanfaatkan tanaman-tanam yang tumbuh liar dilingkungan tersebut tanpa harus menebang kayu juga pembakaran lahan. Mereka menyebutnya tanam-tanam non-populer yang bisa dikonsumsi. SEL pun mengajak masyarakat untuk memanfaatkan itu dan merubahnya menjadi produk-produk yang mampu dikonsumsi sendiri maupun dijual. Sebenarnya hal ini bukan hal yang baru, sejak dulu orang-orang tua sering memanfaatkan daun-daunan non-populer untuk kebutuhan sehari-hari namun sudah lama dilupakan. SEL ingin membangkitkan kembali kebiasaan tersebut hanya saja dengan menghasilkan produk-produk yang lebih kekinian.

Selama menjalani Study Visit peserta mendapatkan materi belajar tentang pendidikan ekologi Dasar dari narasumber yang sudah sangat berpengalaman yaitu Tarmizi Abda sebagai Koordinator SEL. Peserta juga dipertemukan dengan perwakilan setiap kelompok di SEL seperti kelompok Ecoprint produk yang mereka hasilkan berupa tote bag, syal dan juga selendang yang diwarnai dengan pewarna alami dari daun jati dan daun lanang. Kemudian juga ada perwakilan dari kelompok tepung-tepungan, produk yang mereka hasilkan ialah tepung pisang, tepung ubi dan tepung sukun. Bahan-bahan ini dipakai sebagai gerakan menolak terigu pada jenis produk yang dibuat. Kelompok gula semut, kelompok sirup, yang dihasilkan dari beberapa jenis bahan baku seperti pinang, buah mancang dan dari asam kecombrang. Menariknya, narasumber dalam memperkenalkan dan cara pembuatan produk adalah perempuan dari komunitas SEL yang telah mandiri dan meningkat kemampuannya untuk berbicara dipublik.

Selain itu Kelompok juga mempelajari sistem ekonomi dengan memanfaatkan modal sosial masyarakat. Bahwa pemasaran dimulai dari orang-orang sekitar dan juga jaringan. Sistem ini sangat cocok digunakan oleh kelompok-kelompok kecil masyarakat yang mulai memasarkan produk-produknya.

Selain belajar banyak hal baru di dalam kelas peserta study visit juga memiliki kesempatan untuk mengunjungi tempat ekowisata yang ada di Desa Ketambe, peserta mengikuti arung jeram di Sungai Alas. Ini merupakan wisata yang memancing turis internasional untuk datang, karena merupakan salah satu wisata arung jeram berskala dunia. Kegiatan ini merupakan rangkaian acara untuk membangun tim menjadi lebih solid.

Sebagai desa wisata, Ketambe sudah memiliki banyak hal yang dapat ditawarkan kepada wisatawan seperti keindahan alamnya, kuliner lokal yang sangat nikmat dan juga produk-produk yang dihasilkan dari bahan baku lokal. Harapannya setelah study visit ini kelompok ekonomi kreatif perempuan diempat Kab/Kota mampu berdikari, menghasilkan produk-produk dengan memanfaatkan alam sekitar tanpa perlu merusak lingkungan. (Fatimah Zuhra dan Dara Hilda Maiysita/Ani Darliani/Balai Syura)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*