Templates by BIGtheme NET
Home » Activity » Seminar International Puncak Peukan Mangrove Bahas Isu Penyelamatan Mangrove
(For Acehlandscape.com/ IST)

Seminar International Puncak Peukan Mangrove Bahas Isu Penyelamatan Mangrove

(For Acehlandscape.com/ IST)

Acehlandscape.com, Langsa – Seminar Internasional bahas isu penyelamatan dan pelestarian mangrove, menjadi puncak Peukan Mangrove yang dilaksanakan Pemko Langsa dan WWF serta sejumlah lembaga peduli lingkungan hidup.

Seminar ini merupakan dalam rangka menyambut Hari Mangrove Se-dunia tahun 2019 ini, yang berlangsung di aula IAIN Langsa, Sabtu (27/7/2019), dengan mengusung tema ‘aksi bersama dalam konservasi mangrove utk kehidupan dan pembangunan lestari dan berkelanjutan’.

Ketua panitia, Munazir SHI, menyampaikan, seminar Internasional menghadirkan pembicara seperti dari KPH III, akademisi Dr Iswayudi, Aktivis Perempuan Dr Rasyidah, dan perwakilan masyarakat seperti dari kelompok perempuan Kuala Langsa.

Sebelumnya berapa kegiatan mengisi Peukan Mangrove dipusatkan di Gampong Sungai Lueng, Kecamatan Langsa Timur, dengan menampilkan berbagai atraksi maupun lomba diikuti pelajar, masyarakat, nelayan, dan lainnya.

Seperti lomba perahu, lomba memasak makanan dari bahan baku di sekitar mangrove, lomba debat panglima laot tentang upaya perlindungan mangrove, lomba menggambar untuk pelajar, lomba vlog, lomba foto, aneka permainan dan pameran produk-produk mangrove.

Peukan Mangrove ini didukung oleh Program Shared Resources Joint Sollution (SRJS) yang didukung oleh Pemerintah Belanda yang selama ini telah bekerjasama dengan Pemerintah dan sejumlah LSM untuk mendorong pengelolaan mangrove yang lestari.

Perayaan Peukan Mangrove akan ditutup dengan kegiatan kunjungan wisata ke hutan mangrove, menanam pohon dan pembagian hadiah untuk para pemenang lomba, pada Minggu (28/8/2019).

Mewakili Wali Kota Langsa, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Umar SH, menyampaikan, Pemerintah Kota Langsa sangat konsen dalam melestarikan mangrove, dan saat ini da 32 jenis mangrove di wilayah Kota Langsa ini.

Namun persoalan yang masih dihadapi pemerintah, yaitu adalah masih adanya penebangan pohon bakau karena sejumlah masyarakat yang berprofesi pemotong kayu ini beralasan untuk kebutuhan ekonomi keluarga.

Oleh karenanya Pemko Langsa saat ini coba mencari alternatif agar masyarakat tidak lagi memotong kayu, dengan pemanfaatan atau pengembangan hutan mangrove sebagai lokasi ekowisata.

Perwakilan WWF Belanda, Hans Beukeboom, yang hadir dalam seminar internasional, menyatakan dukungan lembaganya terhadap pelestarian hutan mangrove yang kini sedang dilakukan pemerintah, LSM lokal dan masyarakat.

Munazir merincikan, Propinsi Aceh memiliki luas hutan mangrove mencapai 50.017 hektar terletak di pesisir utara.

Sebaran luas hutan mangrove terletak di Aceh Timur (16.621 hektar), Aceh Tamiang (14.093 hektar), Kota Langsa (5.141 hektar). Aceh Utara (349 hektar), Kota Lhokseumawe (56 hektar) dan Bireuen (20 hektar). Selama kurun 2013-2017 telah terjadi kehilangan tutupan hutan mangrove ± 3.910,15 hektar.

Luas kawasan mangrove yang dilindungi di Lansekap Peusangan, Jambo Aye dan Tamiang sebesar 9.876,39 ha. Kondisi tegakan mangrove yang masih baik seluas 21.268,33 ha. (Sumber : Kajian Spatial WWF Indonesia, 2018).

Dengan tekanan-tekanan yang dialami oleh hutan mangrove seperti penebangan liar, pengalihan fungsi lahan dan lainnya diperlukan strategi pengelolaan dan pemanfaatan hutan mangrove. Dan ini merupakan salah satu dari strategi pada program SRJS untuk mempertahankan hutan mangrove yang tersisa dari tekanan tekanan yang ada.

Pemanfaatan hutan mangrove secara berkelanjutan dengan memanfaatkan hutan mangrove untuk memproduksi produk produk seperti sirup, batik, makanana ringan dan juga untuk ekowisata. Sehingga hutan mangrove tetap terjaga dan masyarakat mendapatkan keuntungan ekonomi dari ini, karena yang paling efektif untuk menjaga hutan adalah masyarakat sendiri. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*