Templates by BIGtheme NET
Home » Siaran Pers » Lukisan Deorama “Hope” Warnai Peringatan Hari Orangutan Sedunia di Banda Aceh

Lukisan Deorama “Hope” Warnai Peringatan Hari Orangutan Sedunia di Banda Aceh

Untuk disiarkan segera : Minggu, 25 Agustus 2019 Pukul 15.00 WIB

Banda Aceh (25/8/2019) – Puluhan pemuda ramaikan peringatan Hari Orangutan Sedunia di Taman Sari Banda Aceh dengan mengikuti lomba menggambar poster bertema selamatkan Orangutan. Bersama dengan mereka, seniman lukis dari Komunitas Kanot Bu, Idrus bin Harun menampilkan atraksi lukisan tentang deorama kehidupan “Hope”, seekor orangutan yang ditembak 74 peluru belum lama ini di Subulussalam, Aceh.

Acara ini dilaksanakan WWF Indonesia bersama Earth Hour Aceh dan Komunitas Kanot Bu dengan didukung oleh Program Shared Resources Join Sollution yang bermitra dengan Forum DAS Krueng Peusangan dan Balaisyura Ureung Inong Aceh. Peringatan Hari Orangutan Sedunia dibuka oleh Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh, Sapto Aji Prabowo.

Kepala BKSDA Aceh dalam sambutannya menyampaikan bahwa orangutan Sumatera saat ini berdasarkan Rencana Aksi Strategis Orangutan jumlahnya tinggal 13 ribu lebih yang terbagi dalam delapan meta populasi. Sebanyak 80 persen orangutan Sumatera ada di Aceh.

“Ini harusnya menjadi sebuah kebanggaan Aceh, tapi tantangan untuk orangutan tetap lestari sangat luar biasa terutama karena degradasi habitat. Aceh mempunyai target membuat Kawasan Ekosistem Esensial untuk menghubungkan delapan metapopulasi spesies yang saat ini terdegradasi,”kata Sapto.

Belum lama ini ada kasus orangutan yang ditembak 74 peluru dan bayinya mati karena malnutrisi bernama Hope. “Kemarin saya menerima petisi tentang penembak Hope yang mencapai 933 ribu tandatangan. Orang memberi perhatian bagaimana kita harusnya menyelamatkan orangutan, ucap Kepala BKSDA itu.

Manager WWF-Indonesia Northern Sumatera Landscape, Dede Suhendra menyebutkan, kepedulian masyarakat terhadap nasib orangutan masih sangat rendah. Itu bisa terlihat masih banyaknya kasus perburuan, penembakan, dan pengrusakan habitat orangutan salah satunya seperti nasib menyedihkan yang menimpa Hope.

“Kita harus menyadari, orangutan adalah satwa penting yang memastikan keberlangsungan hutan. Jika orangutan hilang, hutan akan hilang karena salah satu penyebar benih utama pohon sudah tak ada,” kata Dede Suhendra.

Yang tak kalah penting, WWF-Indonesia juga memberikan perhatian serius terhadap keberlangsungan habitat dan orangutan Tapanuli yang saat ini terancam oleh berbagai kegiatan pembangunan seperti salah satunya adalah pengerjaan proyek pembangkit listrik oleh salah satu perusahaan swasta nasional. WWF-Indonesia percaya bahwa keanekaragaman hayati dan kelestarian lingkungan adalah dasar dari pembangunan sosial-ekonomi yang sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, saat ini dan di masa depan.

“Jadi, kami menyerukan kepada semua pihak terutama yang mendapat amanah proyek pembangunan pentingnya meninjau kembali rencana konstruksinya dan mengintegrasikan rencana yang kuat untuk mengurangi semua risiko yang berpotensi mengancam keanekaragaman hayati khususnya spesies orangutan dan habitatnya. Rencana tersebut harus secara transparan diumumkan kepada publik dan dikonsultasikan secara intensif dengan kelompok ahli orangutan yang independen.. WWF-Indonesia mendesak semua pihak untuk melaksanakan himbauan tersebut, dan bersedia untuk pemantauan dan peninjauan oleh pihak independen,” kata Dede.

Untuk menyelamatkan orangutan, masih banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan. Untuk itu WWF-Indonesia mengajak anak-anak muda turut menyampaikan ide mereka tentang penyelamatan orangutan dan habitatnya. Bersama lukisan deorama kehidupan Hope, karya-karya poster anak muda di Banda Aceh diharapkan bisa dipamerkan di ruang publik lainnya. Selain itu, untuk memberikan edukasi kepada anak-anak, WWF-Indonesiamenggelar permainan yang menampilkan informasi seputar orangutan. Hari Orangutan Sedunia diperingati setiap tahun pada tanggal 19 Agustus.

Informasi tambahan :

Indonesia adalah satu-satunya negara yang menjadi rumah bagi tiga spesies orangutan di dunia, yakni orangutan Sumatera (Pongo abelii), orangutan Kalimantan (Pongo pygmeus), dan orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) yang tersebar di pulau Kalimantan dan Sumatera. Saat ini ketiga spesies tersebut berstatus kritis dalam daftar merah IUCN.

Kementerian LHK meluncurkan Strategi Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Orangutan Periode Tahun 2019-2029. SRAK Orangutan ini menjadi dasar dari setiap upaya konservasi yang dilakukan untuk melestarikan primata besar ini.

Data Laporan PHVA tahun 2017 yang dikutip dalam SRAK Orangutan menyatakan bahwa populasi orangutan Kalimantan tersisa 45.590 individu, orangutan Sumatera tersisa 13.710 individu, dan orangutan Tapanuli hanya ada 760 individu. Data juga menyebutkan bahwa populasi orangutan liar kian menurun, seiring dengan terus adanya ancaman nyata yang dihadapi orangutan dan habitatnya. Padahal spesies ini berperan sebagai pemencar biji dan memastikan hutan sebagai bank oksigen kita tetap ada.

Aceh merupakan habitat utama orangutan Sumatera, dimana orangutan mendiami kawasan hutan di Leuser. Ancaman terhadap kelestarian orangutan terus terjadi terutama akibat fragmentasi habitat, hilangnya hutan terutama di dataran rendah akibat alih fungsi kawasan hutan, juga perburuan orangutan.

[Galeri Foto] Peringatan Hari Orangutan Sedunia di Banda Aceh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*